AL-QUR’AN SEBAGAI PONDASI DAN PUNCAK BAGI PERADABAN DAN ILMU

Oleh: Charis Thohari Rohman, S.Sy, S.Th.I, Al-Hafidz

 

Mengajarkan anak-anak Al-Qur’an sejak dini merupakan hal yang tepat dalam rangka

menanamkan pondasi pendidikan pada diri anak sebelum dia belajar apapun. Dengan

pondasi Al-Qur’an sebagai pendidikan dasar diharapkan ketika sang anak tumbuh

dewasa dan menghadapi permasalahan-permasalahan kehidupan, maka solusi pertama

yang akan dicari adalah solusi Qur’ani. Praktek yang terjadi di masyarakat memang

menanamkan pendidikan Al-Qur’an sejak dini, namun yang salah kaprah dan perlu

dikoreksi adalah anggapan jika tamat dari lembaga pendidikan Diniyah Qur’an

seolah-olah kewajiban berinteraksi dengan Al-Qur’an sudah selesai. Banyak didapati

para alumnus pendidikan Diniyah Qur’an yang beranjak SMP, SMA maupun sudah

berkeluarga jarang sekali membuka Al-Qur’an. Ini yang menjadi PR bersama agar lebih

ditanamkan dalam-dalam kecintaan terhadap Al-Qur’an terlebih dahulu sehingga akan

berefek pada interaksi terhadap Al-Qur’an. Sebab pendidikan dan interaksi terhadap

Al-Qur’an itu berkesinambungan sepanjang waktu dan zaman terhitung sejak manusia

dilahirkan di dunia sampai manusia bertemu dengan Rabb mereka.

 

Adanya pemikiran yang salah kaprah sengaja disebarkan oleh orang-orang yang tidak

suka dengan Islam dengan mengatakan, “Jika anakmu hanya diajarkan Al-Qur’an

mereka akan makan apa nanti ketika besar? atau mungkin ada yang mengatakan,

memang perusahaan-perusahaan besar membutuhkan itu? yang dibutuhkan

perusahaan-perusahaan besar adalah kemampuan life skill seperti komputer, bahasa

inggris, ilmu hitung (matematika), IPA dan ilmu-ilmu lainnya.

 

Sehingga banyak orang tua muslim yang hanya mendidik anak-anak mereka dengan ilmu-ilmu umum saja. Kesimpulannya bisa ditebak ketika anak-anak tersebut besardan menghadapi permasalahan hidup, tidak ada pilihan lain selain bergantung pada logika keilmuan umum yang dia pelajari, tanpa merujuk kepada petunjuk agung dari Allah SWT yakni Al-Qur’an. Jika mereka tumbuh menjadi ilmuwan yang mumpuni dalam spesifikasi bidang tertentu, maka ilmu yang dimiliki tidak menjadikan semakin dekat dengan Islam, malah justru membuatnya semakin jauh dari Allah SWT. Banyaknya lahirilmuwan yang sekuler dengan mendikotomi (memisahkan) keilmuwan dunia dengan agama dilatarbelakangi oleh tidak adanya upaya membangun, menanamkan, dan mengaitkan terlebih dahulukeilmuwan umum dengan pendidikan agama yang kokoh dalam hal ini Al-Qur’an kepada peserta didik.

 

Al-Qur’an adalah syumul (komprehensif) yang mencakup segala dimensi ilmu, dan petunjuk yang

dibutuhkan manusia dalam mengarungi kehidupan. Allah Azza wa Jalla sudah berhajat demikian.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

 

مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُون

 

“Tidak kami alpakan di dalam Al-Qur’an sedikitpun, kemudian kepada Tuhan mereka, mereka akan

dikembalikan” (QS al-An’am: 38).

 

Karenanya akan kita dapatkan dalam Al-Qur’an ayat yang membahas berbagai disiplin ilmu, seperti:

ilmu fisika, biologi, geografi, kedokteran, sosiologi, dan beberapa disiplin ilmu lain. Al-Qur’an bukan

ilmu pengetahuan seperti literatur-literatur di perpustakaan karena ia  merupakan kitab petunjuk

kehidupan manusia, namun jika Al-Qur’an berbicara tentang ilmu-ilmu pengetahuan tersebut pasti

benar dan gaya bahasa yang dibawanya sangat mengagumkan. Al-Qur’an ibarat sebuah gunung yang

menjulang tinggi, yang merupakan puncak dari segala bangunan peradaban dan ilmu pengetahuan.

Sedang sumber khazanah keilmuan lain sebagai pemandangan bawah gunung. Orang yang berada

di atas gunung dalam hal ini Al-Qur’an akan dapat melihat pemandangan orang-orang yang berada

dibawahnya dengan jelas dalam hal ini sumber khazanah keilmuan lain yang ternyata mereka sedang

bermain-main atau berwacana dengan dalih akademis dan intelek.

 

Rasulullah SAW telah membuktikan urgensi mencetak kader dengan menanamkan pendidikan

Al-Qur’an terlebih dahulu. Generasi pertama Islam yang beliau didik mampu mengukir sejarah

dan menjadi rol model umat Islam.  Dimana ketika awal Islam tersebar terlebih dahulu sudah

ada dua imperium besar yang berkuasa dan maju peradaban dan keilmuannya. Dua imperium

tersebut yakni: Romawi yang menguasai wilayah barat, dan Persia yang menguasai wilayah timur.

Beliau tidak lantas memerintahkan kepada para sahabat untuk berkiblat dan mencontoh kepada

model pendidikan Romawi dan Persia. Beliau justru mengatakan:

 

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَه

“Sebaik-baik dari kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya”

(HR. Bukhari dan Muslim).

 

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِين

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat (kemuliaan) suatu kaum dengan kitab ini

(Al-Qur’an) dan merendahkan pula dengan kitab ini” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

 

 

Beliau lebih memilih menempuh model pendidikan tersendiri, karena Islam memiliki

karakteristik pendidikan tersendiri yang sangat berbeda dengan pendidikan ala barat

yang cenderung sekuler (memisahkan keilmuan dengan agama).

 

Dalam Islam terlebih dahulu yang ditanamkan adalah pendidikan ruhiah (jiwa), kemudian ‘aqliyah (akal). Dua komponen pendidikan yang sejatinya telah ada dalam pendidikan Al-Qur’an. Ruhiah kaum muslimin ditanamkan untuk selalu berinteraksi dengan kalamullah sehingga akan berefek selalu dekat dengan Al-Khaliq (Sang Pencipta), sedang sisi ‘aqliyah (akal) dipertajam dengan cara mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an yang komprehensifdalam menjelaskan berbagai dimensi ilmu pengetahuan dan solusi permasalahan.

 

Sudah saatnya umat Islam kembali dengan model pendidikan ala Islam, sudah cukup kita

melihat umat ini tercabik-cabik di zaman sekarang. Muhammadiyah dalam hal ini sebagai

gerakan ar-Ruju’ ila al-Kitab wa Sunnah (kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis) dengan

memposisikan diri sebagai ormas yang konsen dalam dunia pendidikan harus memainkan

perannya. ar-Ruju’ ila al-Kitab wa Sunnah bukan hanya sekedar slogan manis tanpa arti

namun harus dibuktikan. Masih banyak didapati para kader persyarikatan yang tidak bisa

membaca Al-Qur’an dengan benar, terbata-bata, dan tidak sedikit yang tidak

bisa sama sekali. Apalagi menghafal dan memahami isi kandungannya. Syubhat yang

sering didengungkan sebagian kader adalah dengan mengatakan, “Muhammadiyah

konsennya itu bukan sebagai pembaca Al-Qur’an dengan benar maupun penghafalnya

tetapi sebagai pengamal Al-Qur’an”. Perkataan ini jika tidak dicermati dengan baik

terkesan masuk akal, namun sejatinya tidak benar dan sangat menyesatkan. Membaca

Al-Qur’an dengan benar serta menghafalkannya adalah merupakan sebuah keutamaan

dan kewajiban kita semua sebagai kaum muslimin, begitu juga dengan mengamalkan isi

kandungan Al-Qur’an yang tidak boleh ditolak. Mengapa kita memisahkan dan

mengkotak-kotakkan semua keutamaan dengan memilih satu keutamaan sebagai

pengamal saja, sementara meninggalkan keutamaan lain sebagai pembaca Al-Qur’an

yang baik, dan penghafalnya. Bukankah lebih baik kita ambil semua keutamaan-

keutamaan tersebut dari membaca dengan benar, menghafalkan, hingga

mengamalkannya agar firman Allah lebih meresap dalam hati.

 

Jika diklarifikasi dengan menanyakan kepada seseorang yang mengatakan demikian,

berapa ayat dari Al-Qur’an yang telah diamalkan. Tentu dia akan bingung

menjawabnya karena mungkin hanya mengamalkan beberapa ayat saja yang sesuai dengan selera hatinya, kemudian meninggalkan ayat yang lain karena tidak sesuai dengannya. Syubhat

tersebut merupakan alasan yang dicari-cari sebagai bentuk ketidakmampuan.

Pendidikan seperti inilah yang menghasilkan ilmuwan-ilmuwan terdahulu dalam Islam yang lurus

(tidak sekuler) seperti: Ibnu Sina (bapak kedokteran modern), Muhammad bin Zakariyya Ar-Razy

(bapak kimia modern), Al-Zahrawi (bapak ilmu bedah modern), dan penemu-penemu lain di dalam

Islam. Mereka semua dikenal sebelumnya sebagai para hafidz-hafidz Qur’an yang menjadikan Al-Qur’an terlebih dahulu sebagai pondasi sebelum mempelajari ilmu medis.

 

Mari berpikir untuk masa depan generasi Islam sekarang dengan membekali mereka pondasi Al-Qur’an. Kita ajarkan mereka membaca dengan benar, menghafalkan, memahami ayat per ayat, dan

mengamalkan isi kandungan ayat Al-Qur’an. Insya Allah dengan menanamkan pondasi pendidikan

anak-anak kita dengan Al-Qur’an pendidikan umum seperti matematika, IPA, IPS, Komputer dan lain

sebagainya akan mudah diterima, karena Al-Qur’an akan melejitkan potensi yang dimilikinya. Banyak

para lulusan cumlaude di sekolah maupun perguruan tinggi notabene dilatarbelakangi pendidikan

Al-Qur’an sebelumnya sebagai seorang hafidz dan hafidzah.

 

Alhamdulillah dengan berdirinya Ma’had Tahfidz Al-Qur’an Ibnu Juraimi Pimpinan Daerah

Muhammadiyah kota merupakan jawaban sekaligus langkah solutif dalam rangka mengkikis anggapan bahwa Muhammadiyah kering akan kader Al-Qur’an terutama para kader hafidz. Kita menginginkan ke depan dengan izin Allah bangsa ini, dan Muhammadiyah mempunyai pemimpin-pemimpin yang di dada, dan akhlaknya Qur’ani serta intelek. Jika para pemimpinnya bagus dan shaleh dengan izin Allah negeri yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur yang menjadi cita-cita persyarikatan bisa tercapai.

 

Berikut kami nukilkan statment (pernyataan) generasi emas umat Islam (para sahabat), dan para ulama terkait urgensi penanaman pendidikan Al-Qur’an terlebih dahulu dengan menghafal dan

menyelami kandungannya sebelum mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya:

 

  1. Abdullah bin Umar mengatakan:

“Wajib bagi kalian mempelajari Al-Qur’an, pelajarilah dan ajarkan kepada anak-anak kalian,

dengan itulah kalian akan ditanya tentangnya, dan diberi balasan baik karenanya, cukuplah itu sebagai nasehat bagi orang-orang yang berakal.” (Ath-Thahawi; Musykilul Atsar 1/171).

 

  1. Ibnu Mas’ud mengatakan:

“Jika engkau menginginkan ilmu maka perbanyaklah Al-Qur’an ini, karena di dalamnya terdapat ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan”. (Syu’abul Iman 2/332 oleh al-Baihaqi).

 

 

  1. Al-Hasan ibnu Ali mengatakan:

“Sesungguhnya sebelum kalian memandang Al-Qur’an ini adalah risalah dari Rabb mereka,

mereka selalu mentadabburinyadi waktu malam dan merasa kehilangan di siang hari”

(at-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an hlm. 28 oleh an-Nawawi).

 

  1. Masyruq Ibnu Al-Ajda’ mengatakan:

“Tidaklah kami bertanya kepada para sahabat Rasulullah SAW tentang sesuatu kecuali semua ilmunya terdapat dalam Al-Qur’an, tetapi kurangnya pengetahuan kita tentang hal itu” (Al-Baihaqi; Syu’abul Iman 5/231).

 

  1. Al-Khatib Al-Baghdadi:

“Selayaknya bagi penuntut ilmu untuk memulai dengan menghafal al-Qur’am, karena itu adalah ilmu yang termulia, yang paling utama untuk didahulukan sebelum yang lain.”

(al-adab asy-syar’iyyah 3/552 oleh ibnu muflih).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *