Al-Qur’an merupakan pedoman fundamental umat Islam pertama yang harus dipegang teguh bagi seseorang yang ingin berjalan menuju keridaan Tuhan mereka, selamat dan tercerahkan mengarungi pelik kehidupan dunia dan akhirat. Kasih Sayang Allah SWT terhadap manusia terwujudkan dengan diturunkannya Al-Qur’an. Ilustrasi sederhana, seandainya manusia adalah sebuah robot atau komputer, maka Al-Qur’an fungsinya adalah sebagai buku petunjuk untuk merawat, mengatur, dan memperbaiki robot atau komputer dari Allah SWT. Akan menjadi sebuah bencana jika untuk merawat dan memperbaiki sebuah robot atau komputer tersebut menggunakan buku petunjuk selain keduanya, misalkan menggunakan buku petunjuk mesin jahit, atau jam tangan.

Semangat yang diungkapkan oleh Al-Qur’an sebagai petunjuk menuju jalan lurus (QS. Al-Isra: 9), pedoman mengarungi hidup (QS. Thoha: 3, QS. Al-Baqarah: 185), pembeda antara kebenaran dan kebatilan (QS. Al-Furqan: 1), dan obat kegundahan hati (QS. Yunus: 57, QS. Al-Isra’: 82) tampaknya tidak sejalan jika melihat realitas kehidupan masyarakat dewasa ini. Jangankan menjadikan Al-Qur’an sebagai Qanun (undang-undang) yang mengatur kehidupan mereka, membaca saja sudah sangat jarang sekali, jangankan membaca Al-Qur’an membuka saja sudah sangat jarang sekali. Al-Qur’an hanya dibuka sebulan sekali pada waktu bulan Ramadhan ketika tadarus berjamaah di masjid-masjid, Itupun kalau sempat untuk membuka dan membacanya. Jika tidak sempat Al-Qur’an hanya terpajang rapi di rak-rak buku dipenuhi debu. Fenomena meremehkan dan acuh tak acuh terhadap Al-Qur’an tentu sangat mengiris hati kita semua.

Sungguh telah benar apa yang difirmankan oleh Allah SWT dan disabdakan oleh Rasulullah SAW. Allah Azza wa Jalla menceritakan kegelisahan Nabi SAW yang diadukan kepada-Nya perihal perilaku umatnya terhadap Al-Qur’an

وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَاالْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Rasul berkata: “Wahai Tuhanku sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur’an ini diabaikan”      (QS. Al-Furqan (25): 30)”.

Dan seperti diungkap dalam sabda Nabi SAW yang bernilai ramalan, “Akan datang kepada kamu sekalian, suatu jaman dimana Al-Qur’an tinggal tulisan, Islam tidak tegak lagi kecuali hanya nama (HR. Baihaqi).

Al-Qur’an yang punya kekuatan yang luar biasadahsyat, diilustrasikan Allah SWTseandainya Al-Qur’an diturunkan kepada gunung, niscaya gunung itu akan tunduk, hancur berkeping-keping karena takutnya kepada Allah SWT (QS. Al-Hasyr: 21), serta dibacakan kepada segolongan jin, niscaya mereka akan terpesona takjub dengan penggambaran yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata (QS. Al-Ahqaf: 29-30, QS. Al-Jin: 1). Itulah kekuatan dahsyat dari Al-Qur’an.

Adapun sekarang, berapa juta kali Al-Qur’an dibaca setiap hari. Ratusan karya tafsir yang menjelaskan dari kata maupun kalimat untuk menjelaskan kemukjizatan Al-Qur’an, berapa pula diangkat dalam seminar, simposium, diskusi, namun tetap juga sulit untuk mendapatkan pembaca Al-Qur’an itu yang meneteskan air mata. Sudah susah kita menemui orang sesenggukan membaca Al-Qur’an. Dan amat sukar kita dapati orang yang terisak-isak karena mendengarkan peringatan ayat-ayat Al-Qur’an.Tidak ada orang yang tersungkur karena mendengar ayat-ayat Al-Qur’an, kecuali tersungkurnya karena sujud tilawah itu saja. Sunnah Nabi SAW yang selalu membaca Surat As-Sajdah di rakaat pertama, dan Surat Al-Insan di rakaat kedua,seperti ini sangat jarang sekarang di Jogja, dan hampir tidak ada. Kita perlu mengelus dada (prihatin) melihathal ini. Tidak dibaca karena memang mayoritas tidak hafal, apalagi diamalkan.

Ini merupakan catatan penting bagi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang responsif terhadap persoalan umat. Ber Muhammadiyah yang paling mendasar adalah ber Islam sebagaimana nasehat singkat founding father Muhammadiyah Kyai Haji Ahmad Dahlan,“Hidup sepanjang kemauan Islam”.Umat ini agar dikenalkan dengan ber Islam yang sebenarnya dengan merefresh (tajdid) kembali kepada undang-undang dunia akhirat (Al-Qur’an) yang mereka lupakan. Membumikan Al-Qur’an dalam segenap aktifitas kehidupan, berarti membacanya dengan sebenar-benar bacaan sebagaimana Al-Qur’an diturunkan untuk menjaga keaslian bacaan yang diajarkan Rasulullah SAW, mentadabburi untuk mendapatkan inspirasi dan pelajaran, menghafalakan dalam rangka menjadi hamba-hamba pilihan Allah SWT sebagai penjaga Al-Qur’an yang di dalam sanubarinya bersemayam ayat-ayat Allah yang mulia untuk dibaca setiap saat dalam segala keadaan, dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari agar mempengaruhi dan membentuk ruhiah dan jasadiah dalam bimbingan Ilahi .

Atas dasar itu sekaligus untuk menjawab tantangan dakwah Muhammadiyah di era sekarang ini Ma’had Tahfidzil Qur’an Muhammadiyah PDM Kota Yogyakarta didirikan. Diharapkan mencetak da’i, mubaligh, ulama Muhammadiyah yang tahu, faham, dan hafal Al Qur’an, seperti generasi awal ulama Muhammadiyah terdahulu-disamping terdapat kurikulum pendukung Dirasah Islamiyah kajian kitab-kitab kuning- mengingat sangat langka umat Islam khususnya kader persyarikatan yang memiliki kualifikasi tersebut.